Posts

Orang Orang Gerbong

Image
Orang-orang yang berjalan sepanjang gerbong demi gerbong menyambung nasib di hari-hari penuh siang bolong memikul bakul-bakul setengah membungkuk tersaruk-saruk menahan lapar dan kantuk Orang-orang yang hidup menyusuri gerbong demi gerbong mata hitam berkantong, mereka terus melolong-lolong tapi ini lorong mati kepak lalat pada sepi suara-suara serak orang-orang gerbong tenggelam dalam sunyi Orang-orang yang menyambung hidup dari gerbong demi gerbong terjaga lebih lama dari lawa-lawa kalong tapi hari-hari penuh siang bolong akan semakin panjang setiap detik napas tercekat mata nanar nyalang

Hari-Hariku

Hari-hariku adalah berton-ton bata yang dipampatkan ke dalam lembaran-lembaran dan dijejalkan ke dalam kantong bertali rantai yang menjerat leherku dengan garang Hari-hariku adalah kaki yang tersuruk-suruk berjalan menyeret beban di atas jalan berkerikil tajam yang beribu kilo panjang dengan lubang-lubang yang menganga menantang menelan gemintang Hari-hariku adalah senja yang tiada pernah berganti malam Aku tidak pernah diterangi cahaya siang yang datang dari jalan-jalan kebenaran tapi aku juga tidak bisa berpaling pada malam dan menyembunyikan gelapku dari pandangan dan aku memang hanya kerembangan di kejauhan

Sejuta Segala

sejuta umat sejuta piring sejuta kosong sejuta kembung sejuta mati sejuta mayat sejuta lahat sejuta kubur sejuta bayar sejuta abai sejuta awan sejuta hujan sejuta petir sejuta atap sejuta bocor sejuta rubuh sejuta dingin sejuta kolong sejuta emper sejuta tidur sejuta jalan sejuta bocah sejuta lagu sejuta sendu sejuta mobil sejuta koin sejuta hari sejuta ingin sejuta bintang sejuta kabut sejuta ah sejuta huh sejuta Oo... sejuta hmm sejuta yap sejuta `kan sejuta pun sejuta hap sejuta mu sejuta mu sejuta ku sejuta kita sejuta maju sejuta sama sejuta anak sejuta segala sejuta bangsa sejuta biar sejuta pilu sejuta yang ingin kusampaikan padamu tentang sejuta hal di negeriku sejuta se    anak segala se       bangsa

Berkatalah O Bapak Tua

Kau kayuh sepeda Tubuh tua bergetar kala Lewati kerikil-kerikil dan lubang menganga Di jalan-jalan paling tersembunyi desa-desa Kau kayuh sepeda Baju itu lama tapi sudah disetrika Ransel koyak tua itu setengah terbuka Berisi buku-buku bersampul kulit ejaan lama Kau kayuh sepeda Pagi-pagi sekali burung-burung bercicit ria Cahaya remang-remang pagi buta Ingatkanmu akan masa lama Lama Oh, begitu lama Kala sepeda tua ini masih belum tua Dan serasa tubuh ini bisa hadang segala bala Oh, lama, begitu lama Kala mata ini masih belum termakan senja Dan tangan-tangan keriput ini tidak pernah gemetar begitu hebatnya Ah, sudah begitu lama Kau kayuh sepeda Sebongkah batu besar sentakkan itu roda Menyentakmu keluar dari hantu-hantu masa muda Ah, begitu fana Kau kayuh sepeda Menuju bangunan reyot sedoyong gudang kopra Sekelebat ingatan akan masa jaya Kembali melintas di depan mata tua bagai saga Kau tambat sepeda Begitu berat rasanya napas...

Sajakku Senyap

Ah, kini sajakku telah habis Lidahku kelu, penaku kutepis Ah, aku hanya bisa menangis Saat kata-kata ku tak ada walau sebaris Ah, kini sajakku telah hilang Bersama sayap burung yang Terbang ke kerembangan senja di kejauhan Dan aku hanya terpaku mata nyalang Oh, Kau yang memberiku kata Kini aku tak bisa menggapai Mu Karena aku sendiri telah memutus kata-kata hikmah Mu yang harusnya aku tegak berkata Oh, harusnya aku tegak berkata Walau harus bertaruh nyawa Walau harus menjadi lara Harusnya aku sampaikan itu kata Tapi aku hanya kebanyakan manusia Tak mampu berkata tanpa daya Dan kini, ketika sajakku telah lenyap Dunia akan jadi sunyi senyap Dari hikmah-hikmah pelawan kalap

Dan Hujan Deras Tak Bisa Menerbangkan Debu

Hijau kolam cincau Meski hujan deras mengguyur kemarin lalu Kering dan tajam, tiang ini masih saja kaku Daun-daun bertulang kasar ini, tetap kering berdebu Batang terpotong-potong, tapi berusaha saling sambung Tanah masih lembek, tertekan, lekang, mudah berubah Gemericik air memercik-mercikkan harapan Tapi hilang sekejap air meluap Lorong berkotak bersekat-sekat padat merayap Oleh para pengungsi yang terduduk dengan mata sembab Aku menyerang dari tepi, menahan tombak, membalikkan Meski sinar mentari telah hilang Dan barisan rumput telah berlubang Menghalangi laju

Ah Sinar Telah Mengekor Rembulan

(kala hujan menyirnakan harapan) Ah hujan kini memecah bohlam-bohlam pinggir jalan Memburamkan kaca Menggenagi rerumputan Tapi berangsur-angsur ia menghilang Reda,ia saat ku tatap kerembangan senja di kejauhan Oh, hujan kini menghempas kesunyian Dengan gemuruh suara halilintar Dan jatuhnya sepotong lautan Dari langit muram Tapi berangsur-angsur ia menghilang Dan kini hanya tinggal rintikan OH, hujan kini tinggal rintikan Tapi rintikan bukanlah rintihan Dan tangisan telah mengekor rembulan Ah, hujan telah hilang Tapisurya juga telah mengekor rembulan Saatnya aku tidur diterangi malam Save Gaza, Save Palestina An Indonesian for better world