Posts

Jangan Sampai

Sudah lama kita berjalan bersama Tapi yang berjalan bukanlah apa atau apa Karena kita seperti tanah liat Yang dijadikan patung para pemahat Tapi patung tak bisa hidup jika dalamnya tak ada jiwa tapi jiwa kita juga tak abadi selamanya setiap masa akan berganti jiwa Jiwa kita sekarang berada di sini sebagai pengganti jiwa yang lama Dan esok ketika pagi menjelang Jiwa kita akan riang melayang Bebas, lepas, menantang gemintang Dan jiwa yang baru datang akan membawa beda rasa Tapi rasa yang mana yang Akan dikenang Lebih lama? Maka jangan sampai Burung Bul-Bul bernyanyi menertawai kita

Bangun Para PEndobrak

Image
Ini adalah sebuah karya yang saya buat dalam bentuk paper bag dengan tema lingkungan. Berisi gambar Indonesia berbentuk daun bolong-bolong seperti dimakan ulat. Apa Anda ingin Indonesia digerogoti ? Apa yang telah Anda berikan bagi bangsa ini ? Jangan cuma menuntut subsidi, perubahan, dan lain-lain. Negara ini tidak akan bisa berubah selama kita juga tidak berubah. Cobalah dari hal-hal kecil dalam kehidupan. Tersenyumlah kepada keluarga, teman, dan siapa saja yang mengisi hidup Anda. Sapalah mereka dan ucapkanlah terima kasih pada apa yang telah mereka lakukan untuk Anda. Cobalah untuk mengucapkan salam pada mereka tiap berjumpa. Buanglah sampah Anda sendiri ke dalam tempat sampah. Timbun sampah-sampah organik Anda di dalam tanah. Jangan merokok di tempat umum. Dan sebisa mungkin jangan terlalu sering berkendara dengan kendaraan bermotor. Bukannya ikalau naik angkutan umu lebih hemat ? Sekarang pun angkutan umum semakin nyaman dari sebelumnya. Kalaupun ada yang membuat tidak nyaman i...

Kejatuhan

Aku jatuh bebas ke dalam Jurang tanpa dasar Dimana dongeng-dongeng tentang Naga-naga buas diceritakan Aku tenggelam Tergulung dan terempaskan ombak lautan Tertarik ke ngarai-ngarai bawah laut dimana Tahta-tahta marid-afrit berkuasa Aku terbang Tertiup angin yang Menyampaikan maut kepada Desa-desa di lembah para pariya Aku terombang-ambing sendirian Tak tahu kemana arah jalan Mencoba mengejar bintang di kelabu angkasa Tapi justru terlempar jauh ke gersangnya sahara : KEMATIAN IMPIAN

Dia Yang Terasingkan

Dia tertinggal Lemah dan terkucilkan Seperti bayi kucing buta Ditinggal mati induknya Dia butuh perlindungan Dia perlu kehangatan Dan air susu induknya Sampai ia bisa melihat ekornya Dia ringkih dan buta Lemah dan rentan Penciumannya belum tajam Dan cakarnya masih belum bisa membunuh malam Dia hanya bisa meringkuk di dalam Keranjang dimana ia dilahirkan Dan erangannya memecah hening malam Tapi kita justru mencampakannya di kebuntuan

Akar Tetaplah Akar

Meski daun berganti daun Akar tetap sama Meski bunga berganti bunga Akar tetap sama Meski biji telah arungi cakrawala Akar tetap sama Dari daun hijau menjadi kuning Dari daun kuning menjadi merah Dari daun merah menjadi cokelat kerontang Dari cokelat kerontang sampai gugur melawan angin Akar tetaplah akar Dari kuncup hingga mekar Dari mekar hingga penyerbukan Dari penyerbukan sampai berbuah Atau hanya layu tanpa buah Akar tetaplah akar Menopang batang rapuh yang Entah sampai kapan akan bertahan Mencengkeram tanah dalam kebutaan Menyerap air Tapi membiarkannya mengalir Menuju pucuk batang Akar tetaplah akar Sebuah siklus yang tiada terputus Demikian seakan Nasib rakyat bangsaku

The Usual

I don`t know how to start it. My name is DOS. I am just usual people. Live like another people live. And do anythings as usual. I was born in usual condition. Entry usual school. And learn like usual student learn. My name have never called in flag ceremony because I have got an achievement nor because of violation have I made. Everything in my live is usual. In my class that contains 24 students, I just get middle position. I am weak in many subject. But not too weak so my teachers need to call me to their room. Maybe for many people, this live style is usual, normal. But it is boring me. I like to read, read everything. And from what I have need I know that, trillion or more people have lived in this earth. But, just a very little of them whom other people remember until the long time after they died.

BojonegoroMusum Kemarau

Matahari belum lagi tinggi Kala petani-petani Bertebaran ke sawah ladang Di kejauhan daun-daun hijau tegak menjulang Menjadi tiang-tiang Penyangga ekonomi kota ini Setiap hari Petani-petani pulang dari sawah ladang Dengan berkeranjang-keranjang Daun-daun yang kuning matang Apalagi kalau bukan itu Tembakau Siang hari Pagar-pagar rumah-rumah dipenuhi papan-papan Dan daun-daun tembakau yang mengering Baralih dari kuning Menjadi cokelat keriting Malam hari Beranda-beranda beralih fungsi Menjadi penuh ramai Oleh anak-anak dan ibu-ibu buruh Suara mesin menderu Memutar baling-baling pisau Merajang tembakau Dan di kala senja Kala sang surya Memberi warna jingga Pada langit desa-desa Perempuan-perempuan tua Duduk-duduk di beranda Dengan segenggam tembakau di mulut mereka