Posts

SAPI GILA

Di akhir Ramadhan yang hening, penduduk desa dikejutkan oleh teriakan-teriakan sapi-sapi mereka yang tak henti-henti. Awalnya, teriakan itu mereka anggap biasa. Akan tetapi, seiring bertambah panjang dan lamanya sapi-sapi itu melolong-lolong sepanjang malam sampai siang bolong, para penduduk desa mulai disergap kekhawatiran. Mereka pada suatu pagi yang langitnya dikerikiti awan-awan kelabu, berkerumun di balai desa seperti kawanan lebah yang mendengung-dengung lesu. “Desa kita sudah terjamah virus sapi gila!” dengus seorang warga desa yang mukanya penuh guratan masa senja. “Mana mungkin ini wabah sapi gila! Sapi-sapi milikku masih makan dengan lahapnya. Mereka hanya melenguh-lenguh saja, mungkin karena sakit korengan.” Ujar yang lain dengan suara mirip celeng. “Sapi-sapi pasti itu kena sihir yang ditiupkan pada tali-temali oleh kelelawar-kelelawar jadi-jadian yang terbang di pekat malam.” Teriak yang lain. “Tidak mungkin!” timpal yang lain. “Itu mungkin saja. Kemarin, aku...
Image

Sketsa Malaikat Hitam

Kereta terakhir bulan Desember baru saja berhenti di Stasiun Senen. Semula, seorang golem lumpur hitam yang baru saja dimuntahkan bersama ratusan yang lain seperti potongan daging kanibara dimuntahkan mulut anakonda itu, ingin menyusuri lorong-lorong kota. Sepanjang jalan-jalan yang di kanan-kirinya dinding-dinding penuh lukisan yang dipajang dalam pameran yang musisi-musisi pengiringnya adalah anak-anak pengamen ber suwal bolong bergitar ompong, golem lumpur hitam itu memantul-mantulkan kepalanya seperti penonton pertandingan bola ping-pong. Sementara para pelukis melolong-lolong, memanggil-manggil si golem agar datang ke lapak-lapak bodong . Tapi dari sana, dari pucuk katedral yang sisa-sisa bulan kemarin malam masih mengerlipkan seiris jeruk tipis keindahan, suara lonceng yang bergema membelah kabut lembut dan cahaya matahari selipat selaput menceracau di telinganya tentang pesta pernikahan yang harumnya semerbak tujuh lapis ruang, di mana seorang malaikat tanpa sayap berdiri be...

ADAKAH MALAIKAT DARI LUMPUR ?

Aku bertanya padamu kawan, apakah ada malaikat yang diciptakan, bagi ia yang tak percaya Tuhan? Yang selalu berdalih bahwa jika ada Tuhan, ia tidak akan hidup berpijak awan di atas badai. Yang yakin bahwa jika Tuhan belum mati, ia tidak akan melihat dirinya sendiri terseret di jalan-jalan, terlindas kereta, terbawa sepanjang rel yang melintasi gubuk-gubuk para pemabuk dan kubur-kubur para pelacur. “Bukalah kembali buku sejarahmu! Baca! Baca keras-keras bait demi bait Internasionale!” ia melolong saat kereta yang ditumpanginya penuh orang-orang yang keringatnya adalah uang-uang receh yang dibayarkan setiap bulan acapkali dengan tunggakkan. “Tak ada penolong bagi kaum kita. Tak ada raja yang berbelaskasihan, tak ada pastor yang mengerat sedikit jubah kulitnya agar bisa kita makan, bahkan Tuhan pun enggan mengirimi kita malaikat yang membawa hidangan manna dan salwa , yang justru diturunkan pada umat Musa yang bengal seperti domba!” “Lihatlah aku! Dari kecil tiada berhenti semb...

Lele - Lele Kolam Lumpur

Di sebuah desa di pedalaman, kawan, yang tanahnya menguapkan bau sampah busuk, liur anjing buduk, dan dijejali oleh gubuk-gubuk para pemabuk, terdapat seorang pemuda kurus berwajah tirus yang senantiasa berdoa serampangan, berharap Tuhan mengiriminya seorang malaikat tanpa sayap yang menjelma ke dalam wujud vedyadari bermata safir, yang tubuhnya bening seperti kaca sihir istana-istana dongeng. Seorang pemuda berambut acakadut yang selalu duduk nyekukruk di dalam growongan makam berbau anyir, menanti akan kedatangan seorang malaikat tanpa sayap yang datang menyembul dari balik lumpur makam seperti bunga wangi tujuh langit yang tumbuh di rawa yang tanahnya menguapkan bau sulfur. Seorang pemuda yang mengharapkan kedatangan malaikat tanpa sayap yang bisa membubungi tanah asalnya dengan wangi kesturi dan legit kurma najwa, menggantikan bau tinja-tinja cokelat tua yang dilemparkan sekenanya ke dalam sana. Suatu waktu pemuda kurus itu pergi ke kota. Di sana, di antara jalan-jalan berta...

TIGA KATA SEMBOYAN DAN SEBUAH IRONI

Tuhan, Bangsa, Almamater. Itulah semboyan yang kita, sebagai mahasiswa ITB, banggakan selama ini. Tiga kata dalam semboyan itu mengandung makna yang sangat dalam dan berat. Tuhan berarti kita sebagai mahasiswa ITB adalah insan yang religious. Kita belajar dan berkarya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta dan mengimplementasikan nilai-nilai keluhuran kita sebagai hamba-Nya dalam kehidupan sesuai dengan agama kita masing-masing demi terwujudnya kehidupan yang damai dan berkeadilan. Bangsa berarti kita memiliki tanggung jawab untuk mengabdi kepada kemaslahatan bangsa kita, Indonesia, untuk membuatnya maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Saya ingat kata-kata rektor saat Sidang Terbuka 11 Agustus lalu, bahwa ITB bukanlah menara gading, ITB tidak berada di atas atau di depan masyarakat, tapi berada di tengah-tengah masyarakat. ITB dan seluruh jajarannya, termasuk kita, mahasiswa, seharusnya berperan sebagai pionir pembangunan bangsa. Almamater berarti kita sebagai mahasisw...

Mewariskan Nilai, Merawat Harapan

Menarik memang membaca tulisan Asep Salahudin, Peneliti Lakpesdam PWNU Jawa Barat sekaligus Dekan Fakultas Syariah IAILM Suralaya, Tasikmalaya, yang dimuat di Kompas, Sabtu, 29 Maret 2014. “ Selalu Ada Harapan”, begitulah judulnya. Bahwa rasio utama digelar pemilu, seperti pada tahun 2014 ini, adalah untuk “memelihara jati diri manusia sebagai „Homo esperans‟, makhluk yang selalu berharap. Buktinya terlihat jelas. Menurut Asep, tak peduli sesulit apa pun kondisinya, setiap musim coblosan, pasti orang berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara, menanti harapan baru, seorang juru selamat yang lahir dari rahim pemilu tersebut. Mereka tak peduli, kalau ternyata yang mereka dapatkan hanyalah petahana “itu-itu” juga. Mereka hanya akan mengkritik, memprotes, dan jika tak ada perbaikan, lima tahun lagi, mereka akan memilih nama-nama yang lain, berharap yang ini lebih baik. Menurut Asep pula, mereka yang memilih untuk absen setiap kali digelar pesta demokrasi tersebut tidak oto...