Posts

Pesawat Terbang, Sains, dan Peradaban: Antara Charles Moraze, Bertrand Russel, dan Naquib al-Attas

Image
IG:  https://www.instagram.com/academiadaluzblanca/    Bagi Charlez Moraze, sejarawan Perancis, pesawat terbang telah menjadi dilema. Pada satu hal, ia telah menjadi semacam instrumen penyelidikan ilmiah yang mampu melayani rasa penasaran manusia, memungkinkan studi gerakan udara dalam detail yang menakjubkan, turut memelopori riset tentang ketinggian, membantu menyempurnakan mesin pembakaran internal, ikut mendorong perkembangan bahan bakar minyak industri, mengubah wajah industri bahan mentah melalui kepeloporannya dalam penggunaan material dan struktur ringan, hingga memacu antusiasme orang. Namun bagi Moraze, ia juga membawa bahaya tirani unifikasi. [Moraze, 1951: 41] Memang pesawat mampu menjadi detektor yang tajam dari perkembangan ekonomi, tapi dengan cepat pula membatas area-area utama aktivitas manusia lewat jaringan jalur-jalurnya yang saling menjalin. Ia memanglah dapat membuka dan menghubungkan pusat-pusat industri baru yang saling berjauhan, melebur batas-b...

Soekiman Wirjosandjojo: Salehnya Sang Dokter Pejuang

Image
  Nama Soekiman Wirjosandjojo mungkin tidak setenar Tjokroaminoto, Hamka, atau Natsir, tapi perannya dalam perjuangan kemerdekaan dan gerakan Islam di Indonesia tidak kalah penting. Soekiman adalah Perdana Menteri keenam Republik Indonesia (1951-1952), salah satu pendiri Jong Islamieten Bond (JIB), dan turut merintis Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Ia termasuk pelopor dokter bumiputra spesialis paru-paru dan cukup lama berpraktik di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Soekiman lahir pada 19 Juli 1898 di Solo, Jawa Tengah. Ia adik Satiman Wirjosandjojo, salah satu pendiri Jong Java. Dia turut aktif di organisasi kepemudaan Jawa itu sebelum berkecimpung dalam JIB. Dengan ayahnya yang saudagar sembako dan ibunya yang guru mengaji, Soekiman dibesarkan dalam keluarga yang terpandang dan religius. Ia sempat terlambat memasuki pendidikan formal, tetapi mendapatkan ajaran agama dari orang tuanya. Pergaulannya terbilang luas, termasuk dengan kalangan Belanda. Saat muda, ia tinggal di r...

Sains Transportasi dan Paradigma Ilmu: Refleksi Singkat

Image
Meskipun studi sains dan teknik kontemporer selalu menekankan objektivitas, setiap keilmuan yang melibatkan manusia, sebagai makhluk yang memiliki sisi pandangan subyektif, tidak akan terlepas dari nilai-nilai yang melandasi pemikiran manusia itu, termasuk dalam melakukan analisis sistem transportasi. Paradigma yang terbentuk dari nilai-nilai itu akan mempengaruhi cara penentu kebijakan dalam mengidentifikasi masalah-masalah dan nilai-nilai komunitasnya yang terkait dengan sistem itu. Seterusnya, paradigma itu akan memberi warna dalam proses penentuan tujuan, objektif, kriteria, standar, dan regulasi bagi sistem. [ C. Jotin Khisty & B. Kent Lall, Dasar-dasar Rekayasa Transportasi Edisi Ketiga Jilid 1 , Terjemahan Fidel Miro, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 8 ] Pada umumnya, dunia akademik formal kontemporer mengajarkan kepada peserta didiknya bahwa ilmu pengetahuan bersifat netral dan penelitian itu mesti objektif. Namun, tahukah kita bahwa pandangan itu tidak selalu benar? Sadarka...

Posisi Transportasi dalam Sains Kontemporer

Image
  Sulit untuk menentukan posisi studi transportasi dalam struktur sains kontemporer, mengingat sifatnya yang interdisipliner dengan komponen, hubungan, dan kompleksitas yang banyak, besar dan beragam. Sains transportasi memiliki irisan dengan studi teknik, perencanaan kota, ekonomi, manajemen, administrasi publik, geografi, dan lain-lain. Selain itu, sains transportasi termasuk disiplin ilmu yang relatif muda, sehingga beraneka rupa masalah baru dapat dengan cepat bermunculan. Dalam perkembangan sejarahnya, sains transportasi umumnya dikristalkan ke dalam studi teknik atau rekayasa transportasi yang menjadi cabang dari teknik sipil. [1] Dalam pelembagaannya, studi transportasi dapat berdiri sendiri sebagai suatu cabang sains atau terintegrasi ke dalam cabang sains lain. Sebagai suatu cabang sains yang berdiri sendiri, studi transportasi dapat dilembagakan ke dalam institut, sekolah, fakultas, atau program studi (prodi) yang khusus, baik dalam jenjang sarjana maupun pascasarjana. ...